PETUAH UNTUKMU YANG SEDANG RISAU JODOHNYA: PART II

Apakah itu dirimu??

Apakah kalian pernah merasa kecewa dan tertipu oleh seseorang? Seolah dia adalah segalanya, atau… hanya saja kamu kepedean…

Lalu, bagaimana?

Apakah benar dia jodohmu??

Bicara sebuah hubungan antara seorang perempuan dan laki-laki, itu berarti melibatkan 2 orang. Hanya 2 orang. 

Ini menurutku loh yaa.. 
Buatku, hubungan ini ibaratnya sebuah perahu kayu yang dikendalikan oleh 2 orang. Satu orang memegang kendali kemudi dan satu lagi mengawasi arah mata angin. 

Yang pertama, kedua orang ini harus memilih kayu mana yang tepat untuk menjadi sebuah fondasi perahu tersebut. Sama ibaratnya seperti hubungan orang dewasa yang tengah berkomitmen untuk perjalanan hidup berduanya. 

Aku yakin, antara sang nahkoda dan penunjuk mata angin sebenarnya punya tujuan dan presepsi yang berbeda. Tapi ketika mereka sudah dalam perahu yang sama, itu berarti sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk menyelaraskan kemana kapal itu berlayar. Saling bicara, berkoordinasi, dan berdiskusi sudah jadi keharusan. 

Badai
Dan ombak tinggi
Itu pasti ada dan tidak bisa dihindari. 
Jangan takut untuk berdebat dan bertengkar jika tujuannya adalah kebaikan bersama. Iya toh? 
Masalah tak pernah bisa dihindari, sebaik-baiknya cara yang dapat kita lakukan adalah menyelesaikannya. 
BUKAN MENGABAIKANNYA. 

Tanpa seorang nahkoda ataupun penunjuk arah, kapal itu hanya akan jadi kapal yang karam.

“Jodoh adalah ketika kamu tidak bisa hidup tanpanya…” 

Ah gombal ya? 

I think it’s true! 

Pernyataan ini akan benar-benar terjadi seiring berjalannya waktu. Ketika kalimat ‘aku mencintaimu’ akan kalah dengan kalimat ‘lebih baik aku yang mati duluan, karena aku tak bisa bayangkan sisa hidupku tanpa kamu..’

Setidaknya itulah kalimat yang sering aku dengar dari pasangan yang telah menikah lebih dari 29 tahun. Orang tua saya.. 

Bagiku, jodoh ibaratnya sebuah bingkai. Kepingan puzzle kecil tak akan merasa pas dalam bingkai besar, tapi disitulah tempat ia akan menetap. Seiring berjalannya waktu, kau akan mengerti, tanpa bingkai itu kamu hanyalah susunan serpihan yang mudah tercerai berai. Dengannya, kamu akan merasakan utuh yang sebenernya, begitu lengkap. Tentunya itu semua memang harus dibayar dengan waktu dan kesabaran. Hargailah tiap proses dalam menemukannya. 

Lalu bagaimana dengan para serpihan hatimu?? 

Ketika Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan berarti harus bersama, bisa jadi ia yang kamu temui hanyalah sebuah pelajaran, sebuah perantara Tuhan atas jawaban semua doa-doamu. 

Tugas kita hanyalah perlu memaknai setiap bentuk pertemuan. Saya pribadi sering kali kecewa dengan orang, tapi perkara pertemuan memang bukan hanya tentang diriku saja. Jika kita mau melihatnya lebih baik, tentunya pertemuan apapun akan punya makna yang tidak akan sia-sia. 

Jadilah pribadi yang baik. Bersikaplah sebaik mungkin kepada siapapun yang kamu temui, hadirlah menjadi makna yang terbaik dalam setiap pertemuan. 

Siapapun yang kamu temui kemarin, hari ini, dan esok hari. Pastikan kamu mampu menghargai prosesnya.
Semoga aku dan kamu yang sedang membaca ini, kelak bertemu dengan jodohnya. 
Di waktu yang tepat. 
Aamiin 🙂

Advertisements

Petuah Untukmu Yang Sedang Risau Jodohnya: Part I

Siapakah dia yang kini kamu temui?

Jodoh? Apa itu jodoh?

Bicara satu hal ini sebenarnya mencakup banyak hal. Orang tua bilang, jodoh itu bisa berupa pasangan hidup, teman, pekerjaan, atau perkerjaan. Usia saat saya menulis ini 23 tahun. Usia dimana para perempuan mulai rentan baper soal jodohnya hahahaha hayo ngaku!

Mari mempersingkat pembahasan, tulisan kali ini aku dedikasikan untuk diriku dan semua orang yang sedang risau akan jodohnya. Iya, jodoh pasangan hidup ..

Bagiku, perasaan risau ini sering kali membuat kita terkecoh dan sulit mengartikan kehadiran seseorang. Aku merasa, ada yang nampak samar-samar seperi seorang jodoh, namanya serpihan hati.

BELING KALI SIS AH!

Satu, atau beberapa kali pasti kita pernah menjumpai seseorang yang nampak seperti refleksi diri kita dan punya pikirian/ tujuan/ kesenangan yang sama dengan diri kita. Lalu kita merasa senang dengan hal tersebut. Bagaimana tidak, ketika semua isi otak dan hatimu akhirnya disetujui, segala yang kita mau, kita tuju bersamanya terasa sangat possible.

Tapi bagaimana kalau kesenangan ini hanyalah bumerang? Saat ia yang kamu kagumi ternyata juga mempunyai sisi yang sangat bertolak belakang denganmu. Akhirnya, kamu kecewa ..

Dalam hidup aku percaya bahwa semakin kita menua, banyak makan asam garam gurih manis hidup, bahagia, bersedih, membentuk bermacam-macam idealis, menjadikan hati kita tidak semurni dulu lagi saat kita masih kecil. Ada banyak sekali hal yang kita mau dan kita tahu, tanpa sadar membentuk kita dan hati kita bagaikan sebuah puzzle yang penuh warna. Lalu kita mulai menginginkan hati ini diisi oleh kepingan yang menurut kita tepat

Aku sendiri, menyebut ini sebagai sebuah serpihan hati, “my another pieces”.. Aku sendiri telah menemui beberapa serpihan diriku dalam diri orang lain dan aku terkecoh hahaha..

Jatuh dari satu serpihan, kemudian bertemu dengan serpihan lainnya yang jauh lebih mirip. Lalu aku berfikir, siapa dia sebenarnya? kenapa kami begitu sama?

Oh ya, dan ternyata jumlah mereka ada buanyaakkk dengan porsi yang berbeda-beda. Ada yang kutemukan dalam teman sebaya, teman lawan jenis, orang tua, kenalan yang umurnya terpaut jauh dariku, bahkan pada orang yang hanya sebentar mampir.

“you are my pieces”

“you are my half soul”

“you are my sister/brother from another world”

Begitulah kira-kira kita menyebutnya. Ada yang datang bagai kepingan puzzle yang begitu kecil namun terasa pas di hati, kepingan yang kamu sangat butuhkan. Ada yang datang bagai kepingan yang begitu besar, seakan ia begitu melengkapi dirimu. Sering kali kita dengan pedenya menyebut dia “separuh aku”.

Aku akan berhenti sementara disini. Siapak dia sebenarnya, akan kita temui di tulisan yang selanjutnya ..